LIRIK-LIRIK CINTA DARI LANGIT YANG MEMBAWA PULANG
Tulisan"Lirik-lirik Cinta dari Langit yang Membawa Pulang: Cinta, Ingatan, dan Jalan Kembali kepada-Nya"
Dalam sebuah perjalanan hidup, saya pernah merenungi sebuah kisah yang menggambarkan bagaimana seharusnya cinta itu hadir — tulus, setia, dan penuh pengorbanan. Kisah itu tentang seorang wanita muda yang mengalami kehancuran jiwa setelah dikhianati oleh kekasihnya, yang menikah dengan orang lain. Ia terpuruk dalam kekecewaan yang dalam, kehilangan semangat dan arah hidup.
Namun di tengah kehampaan itu, datanglah seorang pria — seorang musisi sederhana — yang dengan hati yang bersih dan sabar, mampu menyalakan kembali harapan dalam hidup wanita itu. Cinta mereka tumbuh bukan dari kesempurnaan, melainkan dari luka yang disembuhkan bersama.
Namun takdir menguji kembali cinta mereka. Sang wanita mulai mengalami penyakit hilang ingatan meski masih muda. Hari-harinya dipenuhi kekosongan memori, tetapi sang pria tetap di sisinya. Ia meninggalkan karier musiknya, menanggalkan segala yang ia kejar demi satu hal: merawat wanita yang dicintainya.
Ketika sang wanita sadar bahwa pria itu telah mengorbankan segalanya demi dirinya, ia memutuskan untuk pergi, merasa tak pantas menjadi beban. Ia hanya meninggalkan sepenggal lirik lagu sebagai kenangan dan ucapan cinta terakhir. Lagu itu akhirnya menjadi lagu populer, namun bagi sang pria, lagu itu adalah petunjuk — semacam peta untuk menemukan kembali wanita yang ia cintai.
Setelah pencarian panjang, mereka pun bertemu kembali. Sang wanita tidak mengenalinya. Tapi si pria sabar, membawanya kembali ke tempat-tempat yang dahulu mereka lewati bersama, menyanyikan lagu cinta mereka. Lambat laun, kenangan itu kembali. Hati yang pernah terluka pun sembuh dalam pelukan cinta sejati.
Kisah ini menyadarkan saya, bahwa seperti sang wanita dalam cerita itu, kita pun seringkali menjadi hamba yang lupa — lalai terhadap Allah, sibuk dengan dunia, bahkan menjauh dari jalan yang benar. Tapi Allah tidak pernah melupakan kita. Allah tetap memberi rezeki, kesehatan, dan perlindungan meski kita kerap lalai. Seperti sang pria dalam kisah itu, cinta Allah kepada kita adalah cinta yang tak bersyarat.
Begitu juga Rasulullah ﷺ. Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, disebutkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ terluka parah dalam Perang Uhud — wajah beliau berdarah, gigi beliau patah, dan para sahabat terpukul — beliau tidak membalas dengan kutukan, melainkan justru berdoa untuk umatnya:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
"Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui."
(HR. Muslim, no. 1792, cet. Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 2001, Jilid 3, hlm. 1421)
Dan lebih menyayat hati, adalah detik-detik terakhir Rasulullah ﷺ menjelang wafatnya. Dalam kondisi sakit yang sangat berat, tubuh beliau lemah, dan keringat membasahi wajahnya. Namun yang beliau pikirkan bukan dirinya, bukan hanya keluarganya, tapi umatnya. Dalam Shahih al-Bukhari, disebutkan:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٍ
"Tiada Tuhan selain Allah, sungguh kematian itu memiliki sekarat."
(HR. al-Bukhari, no. 4449, Fath al-Bari, Ibnu Hajar, 1993, Jilid 8, hlm. 145)
Dalam hadis lain, beliau bersabda:
إِنِّي قَدْ دَخَرْتُ دُعَائِي لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Sesungguhnya aku menyimpan doaku khusus untuk umatku di Hari Kiamat."
(HR. Muslim, no. 199, Jilid 1, hlm. 195)
Bahkan saat Malaikat Maut hendak mencabut nyawa beliau, Rasulullah ﷺ sempat berseru:
أُمَّتِي، أُمَّتِي...
"Umatku… umatku…"
(Lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, Al-Khasā’is al-Kubrā, 2003, Jilid 2, hlm. 313)
Imam al-Qurtubi menjelaskan bahwa seruan ini adalah bukti bahwa cinta Rasulullah ﷺ kepada umatnya melebihi cinta siapa pun. Bahkan di saat ajal mendekat, yang paling beliau risaukan adalah nasib umatnya di hadapan Allah (al-Qurtubi, At-Tadzkirah, 2008, hlm. 204).
Fenomena Kontemporer: Ujian Kesabaran Muslim Saat Ini
Fenomena yang nyata saat ini banyak terjadi di kalangan Muslim: ketika diuji dengan kehilangan pekerjaan, kegagalan akademik, atau masalah keluarga, sebagian orang menjadi tidak sabar, mudah marah, bahkan merasa putus asa. Misalnya, seorang mahasiswa yang gagal masuk perguruan tinggi impiannya, atau seorang profesional muda yang terkena PHK mendadak. Reaksi yang tidak sabar ini mencerminkan lemahnya pemahaman terhadap hikmah ujian dalam Islam.
Allah SWT berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
"Dan sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Baqarah: 155)
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menekankan bahwa ujian adalah sarana bagi Allah untuk menyeleksi hamba-Nya yang benar-benar ikhlas dan bersabar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
"Tidak menimpa seorang mukmin sedikit pun dari lelah, sakit, kesedihan, atau kesulitan—bahkan duri yang menusuknya—melainkan Allah akan menghapus kesalahannya karenanya."
(HR. al-Bukhari no. 5641; Muslim no. 2573, Syarh Nawawi ‘ala Muslim, 1995, Jilid 17, hlm. 102)
Imam Nawawi menjelaskan bahwa sabar dalam menghadapi ujian duniawi adalah salah satu sarana utama untuk menghapus dosa dan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan kata lain, kesabaran bukan pasif, tapi aktif: tetap bertawakal, berdoa, dan menata hati.
Sebagaimana lirik lagu dalam kisah tadi menjadi petunjuk cinta yang memulihkan ingatan, Al-Qur’an, hadis, dan shalawat menjadi "lirik-lirik cinta dari langit" yang membimbing kita pulang kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika kita mulai lupa arah hidup, dzikir dan sunnah menjadi jembatan untuk menyambung kembali memori ruhani yang pernah kuat. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَيَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ
"Sesungguhnya Allah sangat bergembira dengan taubat hamba-Nya."
(HR. al-Bukhari no. 5950; HR. Muslim no. 2747; Syarh Nawawi ‘ala Muslim, 1995, Jilid 17, hlm. 74)
Cinta kepada Allah dan Rasul bukan hanya kata, tetapi perjalanan. Sebab cinta sejati selalu menemukan jalan pulang — dan Allah serta Rasul-Nya selalu menanti dengan kasih yang lebih dalam dari apa pun di dunia ini.
